• Berternak Serangga

    Teknik ini mengandalkan serangga jenis tertentu yang nanti ditugaskan untuk mengkonsumsi sampah organik sehingga jumlahnya berkurang. Serangga yang paling umum digunakan adalah Hermetia illucens (L.) atau Black Soldier Larva (lihat gambar 1).

    bsf_diagonal

    Gambar 1. Hermetia illucens (L.) atau Black Soldier Larva

    Serangga ini dipilih karena beberapa pertimbangan berikut:

    1. Mampu mengurangi populasi lalat rumah  dan cukup toleran dengan suhu dan kelembaban tropis[i].
    2. Jarang masuk ke area pemukiman[ii].
    3. Mengkonsumsi material organik yang lebih beragam dibandingkan serangga pemakan sampah/kotoran lainnya[iii].

    Pengurangan sampah organik yang dihasilkan bisa mencapai minimal 50%[iv]. Hasil residu sampah pun berupa butiran granule tidak berbau[v] sehingga tidak mengganggu sekitar. Serangga ini juga merupakan serangga tipe penerbang jarak dekat[iii] (cenderung hinggap di dedaunan), sehingga lebih mudah untuk dibentuk koloni. Bahkan serangga ini pun bisa dikembangbiakan di sekitaran dedaunan sintetis (habitat buatan)[vi].

    Keuntungan ekonomi yang didapat dari metode fly farming ini adalah larva yang dihasilkan dari serangga ini yang nantinya bisa diubah menjadi pakan ternak. Larva dari serangga ini mengkonsumsi sampah organik dan kemudian memetabolisme senyawa kimia di dalamnya menjadi nutrien. Faktanya, larva tersebut mengandung protein sebesar 42% dan lemak sebesar 35% untuk satu larvanya memiliki berat sebesar 0,2 gram. Selama masa hidup lalat betina, telur yang dihasilkan bisa mencapai 729 butir di suhu ruang (250C)[vii]. Jika dari sekian jumlah telur tersebut yang menjadi larva dewasa adalah 500 buah, maka 100 gram larva sudah siap dipanen. Seratus gram ini tentunya dikalikan dengan jumlah lalat yang nanti dibiakan untuk diambil telurnya, maka hasilnya bisa mencapai beberapa kilo.

    Breeding lalat ini cukup mudah dan tidak membutuhkan banyak fasilitas khusus. Yang diperlukan adalah insectary (kamar serangga) dimana nanti serangga dewasa akan tumbuh, kawin dan bertelur. Oleh karena itu insectary, harus dilengkapi dengan fasilitas bagi serangga untuk hinggap (misalkan, pepohonan berukuran setinggi badan) dan sarang telur (bisa dibuat dari dus bekas) dimana serangga tersebut nantinya akan menetaskan telurnya. Sesudah 2-3 hari telur/larva yang baru lahir tersebut akan diambil dan ditempatkan ke tempat penampungan sampah organik yang secara umum bisa di desain sebagaimana diilustrasikan pada gambar 2.

    Buket

    Gambar 2. Sketsa penampung sampah organik untuk fly farming

    Larva yang tumbuh nanti akan mengkonsumsi sampah organik dan proses siklus larva berlanjut. Saat larva sudah cukup mengumpulkan persediaan makanan dalam tubuhnya, maka tahap pupasi akan dimulai (terbentuknya pupa/kepompong). Larva akan naik ke atas landaian, idealnya didesain dengan kemiringan sekitar 40 derajat[vi], dan nantinya jatuh ke bak penampungan. Siklus dari serangga ini secara keseluruhan di sajikan dalam Tabel 1.

    Tabel 1. Durasi Siklus Black Soldier Fly

    No Siklus hidup Durasi
    1 Kawin 2 hari sesudah keluar dari pupa[viii]
    2 Bertelur 4 hari sesudah keluar dari pupa[viii]
    3 Pengeraman 4 hari-6 hari12
    4 Larva hidup 2 minggu sampai 4 bulan[ii]
    5 Pupasi 2 minggu sampai 5 bulan[ii]
    6 Rata-rata siklus hidup serangga 40-43 hari[viii] (di lingkungan yang tidak memadai bisa mencapai 4 bulan[ii]

    Mengacu kepada Tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa waktu panen tidak menunggu begitu lama dan hasilnya bisa terus berkelanjutan. Kelayakan ekonominya pun sudah teruji[iii] bahkan untuk pengolahan kotoran manusia sekalipun[ix]. Kapasitasnya tidak tanggung-tanggung, di Cina, kapasitas fly farming di sana bahkan sudah mampu menampung 32 ton limbah ternak per hari. Sementara itu, Fly farming skala kecil saja mampu menyerap 500-700 kg limbah kotoran organik per minggu.

    Hal yang perlu ditingkatkan ke depannya dari teknologi ini adalah efisiensi dari siklus serangga tersebut. Mengingat proses perkawinan serangga cukup rumit prosesnya, maka pengetahuan tentang siklus reproduksi serangga harus diteliti lebih lanjut. Meningkatkan kapasitas fly farming sangat dibutuhkan untuk mengelola sampah organik industri, namun dengan semakin bertambahnya skalanya, maka pengoperasian dan kontrolnya akan semakin rumit. Namun, sampai saat ini teknologi ini terus menunjukan geliatnya dan keberhasilannya. Teknologi ramah lingkungan ini bisa menjadi solusi bagi masalah sampah langsung di sumbernya.

    [i] McCallan, E., 1974. Hermetia illucens (L.) (Dipt., Stratiomyidae), a cosmpolitan American species long established in Australia and New Zealand. Entomol. Mo. Magazine, 109, pp 232-234.

    [ii] Furman, D. P., Young, R. D. & Catts, E. P. (1959). Hermetia illucens (Linnaeus) as a factor in the natural control of Musca domestica Linnaeus. J. Econ. Entomol., 52, pp. 917-921.

    [iii] Cickova, H., Newton, G.L., Lucy, R.T. dan Kozanek, M., 2015. The use of fly larvae for organic waste treatment. Waste Management, 35, pp. 68-80.

    [iv] Sheppard, D.C. dan Newton, G.L., 1995. A value added manure management system using the black soldier fly.

    [v] Calvert, C.C., 1979. Use of animal excreta for microbial and insect protein synthesis. J. Anim. Sci., 48, pp. 178–192.

    [vi] Sheppard, D.C., Tomberlin, J.K., Joyce, J.A., Kiser, B.C. dan Sumner, S.M., 2002. Rearing methods for the black soldier fly (Diptera: Stratiomyidae). J. Med. Entomol, 39, pp. 695–698.

    [vii] Fletcher, M.G., Axtell, R.C. dan Stinner, R.E., 1990. Longevity and fecundity of Musca domestica (Diptera: Muscidae) as a function of temperature. J. Med. Entomol, 27, pp. 922–926.

    [viii] Tomberlin, J.K. dan Sheppard, D.C., 2001. Lekking behavior of the black soldier fly (Diptera: Stratiomyidae). Fla. Entomol, 84, pp. 729–730.

    [ix] Diener, S., Gutierrez, F.R., Zurbrugg, C., Tockner, K., 2009. Are larvae of the black soldier fly – Hermetia illucens – a financially viable option for organic waste management in Costa Rica? In: Proc. 12th int. waste manag. landfill symp., 5–9 October 2009, Sardinia, Italy.

4 Responsesso far.

  1. Vina Septiana Lira says:

    Semangat ya Cep buat project’y… ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial